Selasa, 03 November 2009

not me, but her

Ada banyak alasan yang tidak bisa ku jelaskan yang menjadikanku semakin kuat. Satu hal yang pasti, aku berterimakasih pada mereka. Pada mereka yang menyayangiku, pada mereka yang menyukaiku, pada mereka yang menjagaku, pada mereka yang melindungiku, pada mereka yang menjadi pangkuan-tumpuan-dan-sandaranku, pada mereka yang menjauhiku, pada mereka yang menggunjingku, yang menggossipkanku di belakang, pada mereka yang membenciku, dan pada mereka yang terang-terangan memusuhiku. Pada mereka yang membuatku menangis, bersedih, terharu, tertawa, bahagia, dan membuatku jauh lebih berani.
Jutru dari hal negatif, kita sesuatu hal yang positif. Menjadi lebih bisa menghargai orang-orang dekat dan tawa-tawa kecil yang bisa menyatukan. Termasuk sesuatu yang dulu selalu ku beri Latar Belakang ‘kaya gitu aja…..’. Bukan ‘seandainya saya’ atau ‘kalau saya’, ‘aku sich….’, tapi ‘sebagai dia’, ‘diposisi dia’, ‘karena dia….’. Melelahkan kadang. Tapi semakin hari, semakin waktu, aku menikmati jalannya. Prosesnya untuk menganggap semua itu indah. Proses yang memakan waktu…..
Tak pernah mengambil atau mengambil terlalu banyak akan membuat kita jutru tak memiliki apa-apa, atau memiliki apa-apa dengan pengorbanan. Hanya saja, manusia sepertiku masih susah untuk menterjemahkan – dan sekaligus meresapinya – apa yang disebut proporsional.
Begitu saja kok dipikirkan?
Orang lain bisa saja beranggapan begitu, tapi faseku sedang dalam batasan itu. Hidup bukanlah tangga yang tidak masalah untuk melewatinya dua atau tiga tingkatan, biar lebih cepat. Tapi dalam hidup, bukan cepat atau lambatnya yang dinilai. Tapi bagaimana sesuatu yang dimiliki – semuanya yang dimiliki – bisa dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih bermakna. Karena hidup kita hanya sebentar.
************************************************************************